mario f lawi Mario F. Lawi dinobatkan sebagai Tokoh Seni versi Majalah Tempo, khusus bidang Sastra Puisi tahun 2014.

Kiprahnya di pentas sastra nasional selama kurang lebih tiga tahun belakangan menjadi alasan utama dia dianugerahi penghargaan itu.

Bersamaan dengan itu, buku kumpulan puisinya, Ekaristi (PlotPoint Publishing, 2014) pun dikukuhkan sebagai buku sastra puisi terbaik 2014.

Sampai menyabet penghargaan itu, Mario mengaku telah melewati jalan panjang dan berliku. Dalam bukunya, Ekaristi, ia mengurai perjalanan itu. Mario, pertama kali tertarik dengan puisi saat duduk di bangku kelas VI SD. Ketika itu, ia diminta mendeklamasikan puisi dalam rangkaian ujian praktik mata pelajaran bahasa Indonesia. Mario memilih mendeklamasikan puisi bertajuk ‘Aku’ karya Chairil Anwar.

Saat menjejakkan kaki di SMP, Mario mulai mengenal karya Kahlil Gibran. Karya-karya pengarang kelas dunia ini, seperti ‘Sang Nabi’ dan ‘Sayap-sayap Patah’, mulai diselaminya berkat pinjaman dari beberapa temannya. Selain itu, ia juga hobi mendengarkan syair-syair lagu Peterpan dan sejumlah grup musik yang lain.

“Saya ingat, puisi pertama yang saya tulis saat di kelas III SMP dengan judul ‘Mawar’. Puisi itu saya dedikasikan kepada Bunda Maria, Bunda Kristus. Ia lahir di tengah kegandrungan saya kepada album Just As I Am milik Guy Sebastian, sebelum tsunami melanda Aceh,” kisah tamatan SMP St Theresia Kupang ini.

Selepas SMP, Mario F. Lawi melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah St Rafael Oepoi, Kupang. Di sanalah kegemaran mengeksplorasi dunia sastra, terutama puisi, semakin kuat. Aneka bahan bacaan dan tradisi akademik yang kental, membuat kemampuan menulis Mario kian berkembang.

Di tempat itu pula, Mario mulai mencecap karya-karya para penyair ternama, seperti Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Joko Pinurbo, Dina Oktaviani, M Aan Mansyur, hingga Esha Tegar Putra. Kelak, ia juga berkenalan dengan karya-karya TS. Eliot, dan lainnya.

Penggerak Komunitas

Rupanya perjalanan cita-cita Mario menjadi imam tak berumur panjang. Setamat seminari menengah, ia tak bisa melanjutkan ke seminari tinggi, lantaran kondisi kesehatannya tidak mendukung. Ia kemudian rehat setahun, dan baru kembali melanjutkan kuliah satu tahun kemudian. Namun, dunia tulis-menulis yang sudah tersemat dalam dirinya tak bisa dihentikan.

Pada 19 Februari 2011, bersama beberapa adik kelasnya di seminari dan beberapa teman lain yang mencintai sastra, Mario mendirikan ‘Komunitas Sastra Dusun Flobamora’. ‘Dusun’ merupakan akronim dari ‘dunia sunyi’. Sedangkan ‘Flobamora’ adalah akronim dari beberapa nama pulau besar di NTT: Flores, Sumba, Timor, dan Alor.

Komunitas yang banyak bergerak di dunia penulisan esai, puisi, cerpen, dan resensi buku itu dideklarasikan pendiriannya di Seminari Tinggi St Mikhael Penfui, Kupang. Satu tahun kemudian, tepat pada 12 Mei 2012, komunitas tersebut melahirkan Jurnal Sastra Santarang yang masih terbit hingga sekarang. Mario menjadi Pemimpin Redaksi dalam jurnal sastra yang terbit setiap bulan itu.

Selain itu, Mario bersama rekan-rekannya juga menggagas ‘Gerakan Babasa’. Babasa adalah akronim dari Baduduk atau duduk bersama dan Baomong atau membicarakan Sastra, sebuah dialek bicara dalam bahasa Kupang. Babasa yang sudah digelar beberapa kali itu sebagai apresiasi terhadap buku Mario, ‘Ekaristi’. Mario juga hadir dalam acara tersebut.

Khazanah Biblis

Sebagian besar puisi karya Mario menerjemahkan ulang tema-tema biblis yang dilebur menjadi satu dengan nuansa lokalitas dan dongeng masa kecil yang ia terima dari ayah dan ibunya. “Ayah saya sering meneruskan cerita-cerita tradisional yang dilisankan ibu kepada saya sebagai pengantar tidur. Sementara ibu, sebagai katekis, lebih sering menceritakan kisah-kisah Alkitab kepada saya yang pada masa itu saya pahami juga sebagai dongeng,” ujar mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Undana Kupang ini.

Lokalitas yang dimaksud Mario adalah aliran kepercayaan Jingitiu yang dianut kakek dari garis keturunan sang ibu. Agama tradisional Jingitiu ini mengakar dan berkembang di kalangan orang Sawu di Pulau Sabu Raijua, kampung asal ibunya, hingga hari ini.

Bagi peraih Academia Award kategori Literatur (Sastra) 2014 ini, baik dongeng tradisional yang dikisahkan sang ayah, agama tradisional Jingitiu, maupun dongeng biblis yang diceritakan sang bunda, sama-sama mengantarnya kepada pesan keselamatan. Sebab, menurut Mario, khazanah-khazanah biblis dan kearifan lokal juga sama-sama mengarahkan para penganutnya kepada keselamatan.

Menulis puisi, pria kelahiran Kupang, 18 Februari 1991 ini, seperti beribadah di gereja, yang menjadi caranya menghidupi yang ia imani, sebagaimana sang kakek menghayati Jingitiu, sebagaimana sang ibu menghayati Kristus. (hidup/tyo/R-1)

`

Source: Meleburkan Iman dalam Puisi – Harian Umum Victory News