Oebelo, adadikupang.com – Setelah perjalanan kurang lebih 20 menit dari kota Kupang melintasi jalan Timor Raya, kita akan tiba di desa Oebelo yang terletak sekitar 20 Km sebelah timur kota Kupang. Di sini, di tepian jalan raya utama Pulau Timor, akan terlihat jejeran kios penjual garam tradisional.

Hampir semua warga Desa Oebelo dan juga Tanah Merah bergerak di bidang usaha pembuatan/penjualan garam, karena usaha tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun. Bahan baku garam tersebut diperoleh dari para petambak garam dengan kisaran harga Rp80.000 – Rp90.000 per karung ukuran 50kg (informasi saat survei), sebelum diolah lagi menjadi halus dalam bentuk garam ber-iodium. Para penjual garam di Desa Oebelo umumnya mendapatkan garam kasar dari para petambak asal Bugis yang menambak garam di tepian pantai sekitar Oebelo.

Hasil produksi garam mereka jual di pinggir jalan raya yang menghubungkan kota Kupang dengan kota Atambua hingga Timor Leste dengan cara memajang garam yang dimuat dalam sokal (kemasan berbentuk bulat yang terbuat dari anyaman daun lontar). Sokal ini biasa digunakan sebagai wadah botol dan juga wadah benda lainnya yang berbentuk bulat dengan berbagai ukuran diameter dan tinggi).

“Kami menjualnya dengan harga Rp10.000 per sokal besar dan Rp5.000 per sokal kecil. Jika nasib baik dalam sehari kami bisa dapatkan Rp300.000-Rp400.000,” kata Martha Feo (36), seorang penjual garam di Desa Oebelo. “Usaha ini sudah menjadi tempat sandaran hidup kami. Orangtua hanya mewariskan usaha pengolahan garam ini kepada kami untuk melanjutkannya,” katanya menambahkan.

Proses pembuatan garam di Kupang secara umumnya dilakukan melalui proses pembuatan garam pada lahan tambak. Tetapi masih ada juga yang membuat garam secara tradisional, seperti yang dilakukan di desa Pitai, Pantai Beringin dan Desa Pariti (di Kecamatan Sulamu). Pengolahan atau pembuatan garam masih menggunakan cara sederhana alias tidak menggunakan tambak. Hal yang sama juga dilakukan oleh para nelayan garam di Oebelo dan Tanah Merah di Kecamatan Kupang Tengah.

Aktifitas ini terutama dilakukan pada saat musim kemarau (mulai bulan Juli). Para nelayan membuat garam dengan bahan dasar tanah atau “debu” yang diambil dari areal sekitar pantai di wilayah pasang air laut terjauh. Areal ini oleh masyarakat biasa dikenal sebagai “arak”.

Pada saat terjadinya air pasang laut yang paling tinggi (jauh), manakala air laut biasanya naik hingga ke sekitar areal sawah dan dekat pemukiman (di Oebelo) atau hingga tepian jalan raya (di Kecamatan Sulamu). Setelah dua mingggu dari kejadian pasang jauh tersebut tanah sekitar areal “arak” tersebut lambat laut menjadi kering. Pada saat itulah para nelayan pembuat garam tradisional mulai melakukan aktifitas mengumpulkan debu.

Alat yang digunakan untuk menggaruk tanah adalah tempurung kelapa atau piring bekas. Tanah atau debu yang sudah terkumpul dimasukkan ke dalam karung plastik atau langsung diangkut dengan gerobak. Selanjutnya tanah tersebut dipindahkan ke tempat penyaringan yang terbuat dari anyaman daun lontar berbentuk kerucut terbalik, biasanya disebut tikar. Tikar ini diikatkan pada tiang penyangga sehingga membentuk bidang segi empat dan bawahnya berbentuk kerucut. Jarak ujung kerucut dengan permukaan tanah sekitar setengah hingga satu meter.

Pada dasar tikar ditaruh kerikil dan juga pasir, kemudian di atasnya dilapisi dengan karung plastik. Di atas karung plastik dipasang satu lapisan lagi kerikil dan pasir sebagai media penyaringan. Di atas media penyaring tersebut, ditaruh debu atau lempung tanah kering. Di bawah tempat penyaringan diletakkan ember atau bokor yang berfungsi sebagai tempat penampung air garam. Selanjutnya, tanah kering atau debu tersebut disiram dengan air laut. Proses penyaringan ini berlangsung selama lebih kurang 1-2 jam. Tanah dan debu tersebut digunakan untuk dua kali proses penyaringan.

Untuk proses penyaringan kristal garam (garam kasar), peralatan dan kontruksi tikar penyaring yang digunakan relatif sama. Hanya saja tanah atau debu diganti dengan garam kristal yang dibeli dari petambak garam dengan harga (saat survei) berkisar antara Rp80.000 hingga Rp90.000 per karung (berat sekitar 50kg). Kristal garam yang dimasukkan pada ember yang telah diberi lubang pada sisi bawah dan sampingnya diletakkan di atas kayu. Selanjutnya, garam dalam ember disiram dengan air tawar. Air tersebut akan melalui penyaringan, dimana tetesan air mengalir sangat lambat. Air hasil tampungan yang sudah terlihat jernih, selanjutnya dimasak sama seperti proses perebusan air garam yang berasal dari debu.

Air hasil penyaringan lalu dipindahkan ke tempat memasak garam yang terbuat dari potongan drum bekas atau yang terbuat dari seng. Proses perebusan air tersebut berlangsung sekitar 3 hingga 4 jam untuk satu kali proses perebusan air menjadi garam. Kayu sebagai bahan bakar diperoleh dari mengambil di hutan (biasa dilakukan oleh pengolah garam di Sulamu) atau dengan membeli kayu bakar seharga Rp500.000 per mobil truk.

Garam yang dihasilkan dari proses perebusan ini sekitar 10kg sampai 15kg. Dalam satu musim, petani garam yang menggunakan bahan baku debu bisa menghasilkan 1.000Kg garam atau setara 20 karung.

Pada saat musim kemarau berganti dengan musim hujan, aktivitas pembuatan garam debu sudah tidak bsa dilakukan. Bagi pembuat garam yang mempunyai modal, bahan baku yang digunakan berupa garam kristal yang dibeli dari petambak. Dengan modal Rp80.000 hingga Rp90.000 per karung, pengolahan garam kristal bisa menghasilkan satu karung garam siap dikonsumsi dengan harga jual Rp. 150.000,- per karung.

Setelah dikurangi biaya untuk membeli kayu sebagai bahan bakar sebesar Rp. 30.000 hingga 40.000, pengolahan garam kristal memperoleh marjin keuntungan sekitar Rp30.000 hingga Rp40.000. Sedangkan keuntungan yang diperoleh dengan olahan garam berbahan dasar debu relatif sama, setiap harinya bisa menghasilkan 20-30kg (setara setengah karung) dengan menghasilkan keuntungan sebesar Rp15.000 hingga Rp22.500.

Ketiadaan modal menyebabkan metode olahan garam dari debu tanah ini dirasakan lebih menguntungkan ketimbang garam kristal. Hanya saja, pada saat musim hujan tiba, pembuat garam Oebelo tak lagi bisa beraktifitas.

AdadiKupang.com | Portal Informasi Kupang – Ketong deng Ketong

AdadiKupang +AdadiKupangdotkom @AdadiKupang info @ adadikupang.com

  • Gambar dari BeritaDaerah.com
  • Tulisan diolah kembali dari:
    POTENSI GARAM DI KUPANG: SUMBERDAYA YANG MELIMPAH & TINGGAL AMBIL
    Oleh:
    Irmadi Nahib, Yatin S, Yosef P, dan Syahrul Arief
    BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL
    Jl. Raya Jakarta Bogor KM 46 Cibinong 16911
    ( unduh PDF artikel lengkap)
  • Untuk pengiriman jadwal event, berita, artikel maupun informasi lainnya, silakan kirimkan ke:
    info @ adadikupang.com.