“Straat A”, sebuah nama yang familiar di setiap telinga penduduk kota kupang ketika melewati Pertigaan Jalan Sumba, Jalan A.Yani dan Jalan Timor Raya di Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama Kotamadya Kupang. Mengucapkannya sangat sederhana namun di balik kesederhanaan nama itu, tak banyak warga kota kupang yang mengetahui secara persis mengapa tempat itu dinamakan “Straat A”, riwayatnya yang panjang ternyata tidak semudah seperti mengucapkan namanya.

Pada tahun 1905, Jendral Van Heutsz mendatangkan satu tim istimewa yang dipimpin oleh Prof. Molengraaf yang adalah seorang ahli geologi Belanda yang sangat tersohor di dunia pada masa itu. Sang Profesor bersama timnya mendarat di Pulau Timor namun tak memilih untuk turun di Kupang melainkan di Atapupu. Tim ini membawa beberapa misi sekaligus yaitu Pertama menyelesaikan garis batas antara Timor Belanda dan Timor Portugis; Kedua membuat Peta Pulau Timor; Ketiga menyelesaikan jalan Kupang – Atapupu yang selama ini terhalang peperangan; dan yang Keempat Merancang Telefoonlijnen (Jaringan Telepon). Tim yang dipimpin Prof. Molengraaff terdiri dari Lettu Inf. Bruijnis, Lettu Inf. Jaan Brandhoof, Lettu Inf. Kunts, Ingenieur BOW Asmussen, Ajun O.O Opnemer Stegenga ditambah Indlandschen Verkenner Roring asal Manado, satu-satunya ahli pribumi dalam tim tersebut.

Di Atapupu mereka membagi wilayah kerja, Stegenga mendapat tugas di Wilayah Kupang dan Pulau Semau, Ir Asmussen dari Camplong sampai Kapan dan Atapupu sampai Besikama, Brandhoof dari Noelmina, Kolbano, Soe sampai Potain dan Kapan serta Noemuti sampai Hasfuik di sebelah barat Atapupu. Kunts membantu Ir. Asmussen dari Kaoniki sampai Soe dan Kapan serta membantu Roring sampai ke Wini. Prof. Molengraaf sendiri menunggang kuda guna mengitari Pulau Timor dari Atapupu ke Kolbano melalui Wekmurak dan Potain kemudian ke utara melalui Kapan, Noitoko, Haimunik, Kefamenanu, Maubesi sampai Wini. Dari Wini ia kembali lagi ke Maubesi lalu menuju Atapupu melalui Sufa. Dalam waktu satu tahun, Peta Pulau Timor pun akhirnya jadi dan Prof. Molengraaf kembali ke Amsterdam. Ir. Asmussen yang memiliki jurusan Burgerlijke Openbare Werken (BOW sekarang Dinas Pekerjaan Umum) memimpin tim yang sisa membuat rancangan jalan Kupang – Atapupu serta memasang jaringan telepon untuk menghubungkan pos-pos belanda.

Ir. Asmussen sendiri memilih Camplong sebagai basecamp-nya, dimana ia mulai mengerjakan jalan As menuju Atapupu melalui Noelmina dan Dusun Soe dan terakhir Ir. Asmussen merenovasi jalan dari Camplong menuju Kupang.

Memasuki Kota Kupang, ia membuat dua cabang jalan, yang satu menuju Sonaf Raja Nikolaus Nisnoni di Naikoten dan cabang jalan yang lainnya menuju Kantor Residen dan Pelabuhan Kupang. Di tengah jalan inilah pada tahun 1914 Asmussen membuat huruf “A” sebagai inisial namanya. Di tengah huruf “A” dimana saat ini terdapat monument Komodo karya bapak Christian Ngefak pada tahun 1986, dahulu berdiri sebuah tugu setinggi tiga meter dengan prasasti marmer bertuliskan Ir. Asmussen untuk menghormati si perancang jalan Kupang – Atapupu.

Pada tahun 1963 dengan semangat anti Belanda yang berkobar-kobar pada masa trikora, monument yang tidak berdosa ini sempat dihancurkan.

Kini walaupun tugu Asmussen sudah tiada tetapi sampai kapanpun tempat ini tetap akan disebut “Straat A” atau Asmussen Street. Nama Van Heutsz dan Prof. Molengraaf hingga kini tak pernah terdengar namun riwayat Straat Asmussen setelah 100 tahun atau tepat satu abad pada tahun 2014, selalu tetap ada di bibir warga kota kupang selama kota ini masih terus bergerak hidup dan pulau ini belum sirna tenggelam. Siapapun yang pernah, sedang, atau akan menggunakan jalan Kupang – Atapupu patut berterima kasih kepada Ir. Asmussen, sang arsitek yang meninggalkan jejaknya yang hingga kini sulit terhapus di tempat ini.

Sumber : Petrus A. Rohi

~

Source: Sejarah Nama Straat “A” | SuaraIndependent.com