Jakarta – Kota Kupang dengan segala keberagaman dan keunikannya harus menjadi barometer pembangunan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam berbagai aspek pembangunan tersebut, Kupang seharusnya bisa menjadi kota yang memberikan kenyamanan, keadilan, kesejahteraan, dan kebersamaan bagi semua warga yang menetap di kota Provinsi NTT tersebut.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Kupang sudah menjadi simpul berkumpulnya semua keberagaman di NTT. Pada saat bersamaan Kupang juga harus ramah terhadap semua pihak yang berkemauan baik untuk membangun kota di ujung Timor Barat tersebut. Kupang pun harus menjadi beranda depan Republik Indonesia (RI) yang dibanggakan karena berbatasan dengan beberapa pihak di luar RI.

Ada sejumlah contoh daerah yang mungkin tidak jauh berbeda dengan Kupang, tetapi bisa menjadi kota atau kawasan metropolitan yang ramah bagi semua warganya. Kondisi tersebut bisa saja tercapai dengan sejumlah prasyarat. Salah satunya adalah perlunya pemimpin yang mempunyai visi yang kuat dan figur yang bisa merangkul semua pihak dalam pembangunan Kota Kupang. Pada saat yang bersamaan, generasi muda diharapkan bisa menjadi figur alternatif untuk mendapatkan pemimpin yang mempunyai visi dan bisa merangkul semua pihak untuk bersama-sama membangun Kupang.

Dalam kaitan itu, Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merasa perlu mendorong orang-orang muda potensial asal NTT untuk memberikan kontribusi bagi Kota Kupang. Kehadiran orang-orang muda diharapkan bisa membawa perubahan yang berarti dan tidak lagi terjebak pada friksi-friksi yang selama ini menjadi penghambat pembangunan di NTT secara umum.

“Tantangan pembangunan Kota Kupang yang semakin kompleks membutuhkan orang muda yang visioner. Keberagaman di NTT, terutama di Kota Kupang, jangan menjadi friksi dan kendala mencapai kesejahteraan masyarakatnya,” kata Ketua Forkoma PMKRI Hermawi Taslim di Jakarta, Senin (8/2).

Menurut Taslim, stigma dan friksi politik yang dikemas dari keberagaman masyarakat NTT justru membuat sejumlah daerah di NTT tidak bisa berkembang dengan baik. Untuk itu, Kupang harus menjadi barometer agar bisa dipimpin orang muda yang visioner sehingga membuat perubahan yang berarti untuk masyarakatnya.

“Kupang sudah menjadi metropolitan dan punya posisi yang strategis sehingga perlu pemimpin yang bisa memberi solusi atas kebutuhan warga yang sangat beragam tersebut,” kata Taslim yang pernah mengkader sejumlah politisi di NTT sejak awal tahun 2000-an.

Untuk itu, Taslim mengatakan sudah saatnya orang-orang muda menunjukkan keunggulannya dan segera berkiprah dalam membangun Kota Kupang. Sejauh ini, Forkoma PMKRI baru mencatat beberapa nama yang patut didorong sehingga semakin dikenal masyarakat Kupang, seperti Yohanis Fransiskus Lema atau dikenal Ansy Lema, Matheos Atok Messakh, Sarah Lerry Mboeik, Winston Rondo, dan Victor Lerik. Demikian juga John GF Seran, Cons Joel Tukan, Balqis Tanof, Mel Atok, Wilson Therik dan Jermy Haning.

“Masih banyak orang-orang muda lain yang potensial dan punya ide-ide kreatif. Jangan sampai potensi yang bagus tersebut justru tidak dimanfaatkan,” kata Sekjen Forkoma PMKRI Heri Soba.

Sebagai eksponen organisasi kemahasiswaan, Forkoma PMKRI juga mendorong jebolan-jebolan dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), serta PMKRI sendiri untuk menampilkan tokoh-tokoh muda tersebut.

“Tidak bisa dipungkiri melalui organisasi dalam Kelompok Cipayung tersebut sudah melahirkan ratusan hingga ribuan kader yang patut diapresiasi. Tentu banyak juga elemen-elemen lain yang telah membina orang-orang muda dan harus bersama-sama memberi solusi bagi lebih dari 500 ribu warga Kota Kupang untuk mencapai hidup yang lebih baik,” ujar Soba. (BeritaSatu.com)