Kupang -Inflasi Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi NTT mencapai 4,9% atau di atas rata-rata inflasi nasional yang sebesar 3,35%.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya menyatakan beberapa komoditas memang menyumbang inflasi cukup besar. Seperti beras, minyak goreng, terpung terigu dan berbagai jenis bumbu-bumbuan yang tidak diproduksi di daerah tersebut.

Kelompok pangan tersebut selama ini didatangkan dari Surabaya dan Makasar. Sehingga membuat harga jual di NTT menjadi lebih mahal.

“Bisa dibayangkan ini distribusi dari Surabaya dari Makasar ke sini itu membuat harga naik,” ujarnya di Hotel Aston, Kupang, NTT, Jumat (12/2/2016)

Selain itu adalah tarif angkutan udara. Frans menyebutkan harga tiket dari Kupang ke Labuan Bajo hampir setara dengan tiket Jakarta – Kupang. Bila menggunakan kapal, membutuhkan waktu yang lama, sebab kapal besar masih sedikit.

“Tarif angkutan udara ini juga menjadi tantangan pariwisata di NTT. Kalau orang datang ke Bangkok butuh Rp 7 juta untuk delapan hari, tapi ke NTT tidak bisa, karena tarif angkutan udara terlalu tinggi,” terangnya.

Berbagai upaya telah dilakukan selama ini, mulai dari rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Kemudian pembenahan infrastruktur, dan sistem penyaluran logistik.

“Misalnya kita terus melakukan perbaikan bongkar muat di pelabuhan. Masalah pergudangan ini pihak swasta juga untuk membangun gudang-gudang,” ungkap Frans.

Sedangkan untuk tarif angkutan udara, Frans meminta bantuan pemerintah pusat. Misalnya dengan memperpanjang landasan pacu di bandar udara (bandara) yang terdapat di NTT. Baik yang berada di Kupang, Ende, Labuan Bajo dan lainnya.

“Kami harap bandara diperpanjang dan pesawat diperlebar juga ke sini, dengan begitu harapannya tarif bisa turun,” pungkasnya. (detik.com)