KUPANG, MK – Incelerator milik RSUD Prof.W.Z. Johannes Kupang berpotensi menebar bencana lingkungan dan nyawa manusia. Pasalnya, kondisi Incelerator diduga kuat tidak layak sesuai standar KEPMENKES 1204/2014 menyebabkan pembakaran sampah medis tidak sempurna. Pembakaran tersebut akan menghasilkan zat racun dioxin yang membahayakan sistem syaraf dan menyebabkan kanker bagi warga sekitar lingkungan rumah sakat terutama bayi.

Saat ini, warga yang menunggu bayi mereka yang sedang dirawat di sekitar ruang ruang Terina/NICU merasa sangat terganggu dengan bau tidak sedap dari sampah yang dibakar. “Kami merasakan bau sekali, saat mereka bakar sampah medis itu sangat mengganggu kenyamaan kami di sini,” keluh Tibetius Mone, saat ditemui media ini, Kamis (30/7/2015) pagi.

Mone mengharapkan pihak manajemen bisa memperhatikan hal ini secara serius. Pasalnya, aroma tak sedap yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut akan berbahaya bagi kesehatan bayi-bayi yang sedang dirawat di rumah sakit.

“Semoga pihak rumah sakit bisa memperhatikan nasib bayi kami yang dirawat ini, takutnya terinfeksi virus dari hasil pembakaran itu,” harap Mone

Hal demikian ditegaskan pula oleh aktivis Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) NTT Florianus SN Dede. Dede membeberkan bahwa hasil investigasi yang dilakukan, pihaknya mendapat informasi adanya praktek pelanggaran hukum dan tindakan yang tidak sesuai prosedur kesehatan yang akan berakibat fatal bagi kesehatan dan merenggut nyawa manusia.

“Kami mendapatkan informasi hasil telaah masalah dari bagian Sanitarian RSUD Johanes Kupang pada bulan Februari 2015 terdapat beberapa orang bayi di ruangan NICU terkena penyakit Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dari limbah medis,, namun hal ini kesannya didiamkan oleh pihak manajemen rumah sakit,” jelas Kepala Bidang Advokasi BARA JP NTT.Florianus SN Dede,

Menambahkan Dede, Ketua DPD Bara JP NTT, Wiliam Koba mengatakan, persoalan pengelolaan Limbah Medis RSUD Johannes milik Pemerintahan Provinsi NTT tersebut merupakan persoalan serius yang mesti diperhatian oleh semua pihak karena hal ini menyangkut kesehatan bagi lingkungan rumah sakit.

“Ini persoalan serius. Bara JP NTT lagi berkoordinasi dengan DPRD NTT yang membidangi kesehatan untuk menuntaskan kasus ini. Kami sudah melakukan investigasi,” kata William Koba.

Hingga berita ini diturunkan pihak rumah sakit gagal di konfirmasi. Plt. Dirut BLUD RSUD Prof.W.Z. Johannes Kupang, Ari Ondok beberapa kali dibuhubingi media, belum memberikan keterangan.

Diberitakan sebelumnya, pengelolaan sampah medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof.W.Z. Johannes Kupang sangat amburadul, dan tidak mencerminkan lingkungan yang sehat.

“Sampah-sampah yang dibiarkan berserakan amburadul di sekitar rumah sakit akan membahayakan kesehatan. Itu bisa saja mencabut nyawa manusia karena diduga sampah tersebut mengandung obat-obatan beracun,” tegas aktivis Barisan Relawan Jalan Perubahan (BARA JP) NTT dalam rilis yang diterima redaksi mediakonstruksintt.com, Rabu (29/7/15). (Bertus/MK/sf)

– sumber: mediakonstruksintt.com